Arham FA
Mahasiswa STAIL semester VIII
Pernahkan anda mendengar lantunan lagu Iwan Fals “Ibu”? Kalau belum, sempatkanlah walau sejenak. “Ribuan kilo jalan yang kau tempu, lewati rintangan untuk aku anakmu, ibuku sayang masih terus berjalan, walau tapak kaki penuh darah penuh nanah” Demikian Iwan Fals dengan begitu puitis namun gamblang dalam lantunan lagu, menggambarkan beratnya kehidupan yang harus dijalani seorang ibu demi mendidik dan membesarkan buah hatinya, Kita!
Mari sejanak hadirkan kembali wajah sang ibu dalam bayangan kita. Dengan seizin Allah, genangan air mata akan membanjiri kelopak matanya yang mungkin sudah sekian lama kita biarkan tak menyapanya. Kerut di pipinya mengisyaratkan kelelahan yang sangat, tenaga yang mulai habis dimakan waktu seolah tak lagi sanggup sekedar mengangkat tubuh rapuhnya. Di bola matanya, nampak jelas guratan berat kehidupan yang telah dilaluinya. Namun itu sama-sekali tak memudarkan cinta kasihnya pada kita, doa-doanya dalam sujud tak terhenti dilantunkan untuk kita, anaknya tercinta.
“Cinta anak sepanjang gala, cinta ibu sepanjang masa”. Pepatah yang biasa kita dengar untuk melukiskan betapa kita tidak akan pernah sanggup membayar berapapun dan dengan apapun cinta yang pernah diberikan oleh ibu. Bahkan Huwaish al Qorni, sahabat Rasulullah, rasa ingin membalas cinta sang ibu membuatnya rela ingin menggendong ibunya pulang pergi ibadah haji. Bahkan ada sahabat yang dilarang pergi berperang bersama Rasul, lantaran tidak ada yang mengurus ibunya yang sudah renta. “rawat dan layani ibumu.” Demikian perintah Rasul kepada pemuda itu.